Ramadhan Bareng Vindes
Sahur kedua di Ramadhan tahun ini, kembali dibangunkan oleh Ibuk melalui telepon WhatsApp. Pukul 3.18, saya beranjak dari kasur mengambil sebungkus nasi goreng kemarin malam, lalu menyalakan laptop dan membuka laman YouTube. Arah kursor langsung menuju ke siaran langsung Ramadhan Bareng Vindes, program tahunan dari kanal YouTube Vindes yang tayang setiap sahur.
Tidak terasa sudah 3 atau 4 edisi Ramadhan terakhir saya ditemani tontonan dari Vindes. Saya bahkan masih menyimpan tangkapan layar dari siaran langsung Bukber Nih Yee hari Senin 27 Maret 2023, ketika Attaya, kawan saya seorang perantau tangguh asal Medan yang berjuang di Jakarta, berkesempatan menonton langsung di studio bahkan ikut bermain games bersama para pengisi acara. Kalau kata Attaya waktu itu, 'kyk bapak liat anaknya masuk tipi'.
Mendekati imsak, saya mencukupkan sahur dan bersiap menuju musholla. Sebelumnya, mendirikan sholat ghoib, mengirim doa untuk dua teman yang sudah berpulang pada Allah SWT. Lantas beranjak ke musholla, berjamaah dengan Pak Ahmad dan tiga jamaah lainnya. Sholat Shubuh ditunaikan di tengah embun pagi yang menenangkan.
Bekerja dan buka bersama
Saya baru bangun setelah handphone berdering, panggilan masuk dari Nisa di WhatsApp. Tiga jam awal bekerja saya lalui dengan mengirimkan pesan konfirmasi data sekolah siswa, sedikit canggung mengikuti sosialisasi campaign dari tim Central bersama manajer (setelah 'evaluasi' kemarin, canggung ini menurut saya masih wajar), juga mengobrol dengan teman kantor tentang wisata Banyuwangi. Teman-teman shift kedua berdatangan. Saya mengobrol singkat dengan salah satu kolega yang sudah berkeluarga, tentang bagaimana mengenalkan puasa pada anaknya. Pertanyaan impulsif dengan topik menarik seputar mengenalkan dan mengamalkan Islam dalam keluarga. Tidak banyak obrolan kami karena tak lama berselang masuk jadwal pertemuan pekanan divisi.
Pertemuan selesai dengan beberapa catatan tugas yang bisa diperbaiki. Saya kembali melanjutkan pekerjaan. Mulai dari menenangkan siswa yang belum tidur siang dan menolak masuk kelas, membangunkan siswa lain yang tidur di kelas karena lelah dan tidak mau mengikuti kegiatan kelas. mengirimkan video pembelajaran dari kelas lain, menemani siswa mengerjakan tugas, lalu ditutup briefing singkat tentang test seputar pekerjaan yang akan diadakan tim Central pekan depan. Tidak terasa waktu berlalu, adzan berkumandang dan tiba waktu berbuka puasa.
Tarawih dan pancong hangat
Hari ini Egan, teman kantor, ikut bergabung ke jamaah musholla dekat kos. Setelah selesai sholat Isya' sekaligus tarawih dan witir, imam sholat hari ini menyampaikan pesan untuk menjaga kesyukuran atas dipertemukannya kita dengan bulan Ramadhan. Bulan penuh ampunan bahkan untuk dosa di masa lampau dan yang akan datang bagi mereka yang berpuasa iimaanan wa ihtisaaban, dengan iman dan keikhlasan. Sekilas teringat salah satu pesan pada saluran WhatsApp #PengigatKebaikan untuk berpuasa dengan niat ikhlas karena Allah SWT, bukan sekadar mengikuti budaya/kebiasaan masyarakat. Juga kalau tidak salah mengingat, Ustadz Adi Hidayat dalam salah satu kajian beliau menyampaikan bahwa puasa merupakan ibadah yang ditujukan khusus pada Allah SWT.
Setelah tarawih, saya menyalami Pak Ahmad. Beliau mengajak tadarus bersama malam ini, sekitar pukul 09.30 nanti. Saya pamit terlebih dahulu dengan niat menghormati tamu (baca: Egan) dan berniat kembali lagi setelah Egan pulang. Kami berdua kemudian beranjak ke Pancong Pantura, masih berpakaian sholat lengkap dengan sarung. Berbincang dengan melahap pancong hangat dan teh vanila, Egan bercerita tentang tantangan peran barunya di kantor saat ini. Saya lebih banyak mendengar dan tidak begitu bercerita.
Hari ini juga hari pertama Mbak Nugha, teman kantor yang saat ini sudah resign dan berumah tangga di Tegal, menghidupkan kembali grup khataman Ramadhan yang diinisiasinya mulai tahun lalu. Saya kebagian membaca mulai dari juz 12. Sekilas sembari berbagi beban pikir dengan Egan, saya membuka Al-Qur'an digital di handphone. Ayat pertama dari juz tersebut terasa mengena sekali ketika dibaca, tepat dengan konteks perbincangan kami berdua. terpatnya pada Surah Hud ayat 6, tentang jaminan Allah SWT bahwa 'Tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.' Memang sungguh ajaib Allah SWT melalui Al-Qur'an, pesan-Nya tetap relevan sampai ratusan tahun kemudian, dan mengena tanpa pernah kita kira sebelumnya.
Waktu di layar handphone menunjukkan pukul 9, kami beranjak dari tempat untuk kembali ke kos masing-masing. Setibanya di kos, saya masih termenung mengingat salah satu ayat dari Surah Hud yang sekilas saya baca tadi. Semoga kita diberi nikmat untuk dapat dekat dengan Al-Qur'an di bulan turunnya kitab suci ini. Mampu membaca, memaknai, dan mengamalkan, bahkan menyebarkan nilai kebaikan dimulai dari diri sendiri. Aamiin
Alhamdulillah untuk hari ini.









