Akhir-akhir ini banyak hal panas yang gencar dibicarakan publik: harga PCR turun, pro-kontra menwa, sampai polemik birokrasi aparat. Tidak ada kipas angin juga dapat melahirkan keadaan panas (disebut juga: sumuk), seperti yang terjadi di kamar saya.
Malam musyawarah asrama diadakan sebagai majlis bagi pengurus dan anggota satu gedung untuk merancang kehidupan berasrama yang sakinah mawaddah wa rohmah selama satu tahun ke depan (kalau tidak ada perpindahan dadakan). Begitu penting peran musyawarah dalam penyusunan rencana organisasi. Realisasinya kapan? Kita musyawarah dulu.
Proses musyawarah berjalan khidmat, pimpinan sidang membaca pasal disambut sorakan setuju dari peserta yang tipis-tipis berbisik "ini tadi pasal apa?".
| Kipas angin ElSevier terindeks Scopus |
Satu siang itu kamar terasa panas sekali, saya memilih untuk tidur karena kalau mau futsalan di kamar susah juga. Tidak ada lagi bahasan seputar kipas angin. Bagaikan tiki-taka Pep Guardiola, Ari (teman saya) bertanya ke sini diumpan ke sana. "Ya sudah, gimana lagi. Tidur aja lah. Siapa tahu bangun-bangun dapat kipas angin" sahut Ari waktu ditanya Prana tentang kelanjutan proses lobi alat pemutar udara. Birokrasi memang selalu begitu, kan?
Sudah masuk pertengahan sore ketika saya terbangun dengan rasa heran. "Ini kok kamar ramai sekali" gumam saya sembari duduk mengusap wajah. Benar saja, di tengah kamar berdiri tangga lipat dan tiga sampai empat orang dengan tas selempang kecil di pinggang mereka. Perawakan anak elektro kampus kami. Barang langka yang dinanti-nanti warga kamar ini juga terlihat, sebuah kipas angin sedang dipasang. Saya pergi mengambil wudhu lalu mampir kamar tetangga untuk sholat dulu.
Begitu saya balik kamar lha kok ndak terlihat ada perubahan. Cuma kamarnya jadi tidak penuh, pasukan anak elektro sudah pulang. Kipas angin? Tidak ada kipas angin. Ijal, teman kamar, seketika bilang "Tadi kata yang masang, ga ada listriknya" merespon gestur saya menunjuk tempat di mana kipas angin "sempat" ada.
Astaghfirullah. Iso-isoneee. Kok bisa masang kipas angin belum meriksa alur listrik. Kok bisa kipas anginnya dilepas lagi. Kok bisa ini tombol power terpasang dengan khidmat di tembok, tapi ndak ada kipas angine. Dijual terpisah apa gimana ini konsepnya?
Seminggu, sebulan, satu semester berlalu tanpa kipas angin. Satu kamar ini sudah menemukan caranya masing-masing untuk mencari angin. Berdiri samping jendela, numpang kamar lain (yang punya kipas angin), atau pergi seharian dan pulang untuk mandi, ganti baju, tidur, dilanjut pergi lagi.
Sempat terbesit pertanyaan seputar kipas angin di kamar ini. Sejak kapan tidak ada kipas angin dan apa sebabnya? Bisa jadi memang dari awal tidak ada, arus listriknya juga tidak ada, atau karena mahasiswa nyalain kipas angin sepanjang waktu bahkan ketika kamar mereka kosong. Kan repot juga kalau kipas angin capek berputar, trus nanti masuk angin, dan rusak. Tapi sepertinya pertanyaan demikian ndak terlalu penting lah, yang lebih utama adalah semuanya sudah dimusyawarahkan.
Memasuki akhir liburan, saya baru pulang jalan-jalan. Asrama penuh debu dan suara potong keramik. Rupanya sedang renovasi. Alhamdulillah, tangga yang bolong-bolong sudah tidak ada lagi. Plafon berlubang juga sebagian sudah dibenahi (karena kamar tetangga masih agak bocor).
Pintu kamar masih sama, ada yang pakai kain bendera. Kipas angin? Sepertinya memang cuma tombol power yang tersedia. Pintu tidak ada, yang dibetulkan tangga. Belum ada kipas angin, yang baru malah ubin. Hehe~

