450, dapat apa?
Kalau dengan 80 juta bisa meningkatkan exposure dan pemberitaan media, apa yang dihasilkan 450 ribu dalam sebuah kompetisi sepak bola? Berikut ulasannya.
- Technical Meeting yang dijadwalkan pada hari Jum'at (22/10) secara offline dimajukan menjadi Kamis (21/10) via Zoom Meeting (online). Pemberitahuan tentang perubahan konsep TM ini disebarkan pada Kamis Maghrib, bersamaan dengan berangkatnya perwakilan dari Official Da'i Muda FC. Wes adoh-adoh budal Kediri, ga sido TM. Kurang mepet pengumuman e Bos!
- Terdapat beberapa tim yang sama sekali tidak mengirim perwakilan untuk mengikuti TM online pada Kamis Malam tersebut, dan tidak ada tindakan apa-apa dari panitia
- Undian grup ketika TM berlangsung dilakukan dengan "agak tertutup", di mana panitia yang bertugas sama sekali tidak melihatkan bagaimana undian dilakukan dan membuka kertas ke hadapan para perwakilan tim yang hadir di Zoom Meeting.
- Da'i Muda FC tergabung dalam grup D bersama Taroyad City & GORDA FC. Selama berlaga, muncul beberapa keputusan wasit yang patut dipertanyakan. Padahal menurut panitia (saat TM) , terdapat tiga wasit lisensi pada kompetisi ini. Pernyataan tersebut melahirkan pertanyaan "Lisensi apa yang dimiliki wasit, wong ketika mimpin pertandingan saja bajunya dikeluarkan"
- Selama kompetisi berlangsung, hanya ada 1 dus air putih gelas, tidak ada tim medis, dan tidak ada anak gawang. Bahkan pertandingan Taroyad City vs GORDA FC sempat menggunakan bola dari Da'i Muda FC tanpa konfirmasi. Ujug-ujug dinggo
- Pertandingan pertama melawan Taroyad City, keputusan wasit beberapa kali merugikan Da'i Muda FC mulai dari offside yang tidak offside, hingga melayangnya kartu merah pada pemain kami (Ahnaf Gilang) tanpa peringatan apapun, padahal Ahnaf mendapat gestur cekikan dari lawan dan sama sekali tidak membalas gesture tersebut*. Mungkin biar sama-sama dapat kartu merah sepertinya.
- Bertemu dengan Gorda FC pada pertandingan kedua, Da'i Muda FC lagi-lagi dirugikan setelah wasit menghadiahkan tendangan penalti pada pihak lawan yang terjatuh di luar kotak penalti*. Asisten wasit bahkan tidak mengangkat bendera saat itu karena dinilai bukan sebuah pelanggaran, murni adu body antara dua pemain. Keadaan semakin menarik karena saat mengambil keputusan penalti, wasit berada jauh dari titik terjadinya pelanggaran. Beliau masih berjalan santai di tengah lapangan. Asisten wasit seketika mengangkat bendera ketika titik putih ditunjuk, namun wasit tidak menggubris ajakan diskusi asistennya. Official Da'i Muda FC paham sekali bahwa keputusan utama berada di wasit tengah, namun apakah tidak aneh ketika anda mengambil keputusan sedangkan anda jauh dari titik terjadinya pelanggaran, dan asisten wasit yang lebih dekat penglihatannya anda hiraukan?
- Official Da'i Muda FC melayangkan protes terhadap "hadiah penalti GORDA FC" pada panitia setelah pertandingan berlangsung, namun yang terjadi adalah panitia mengembalikan keputusan sepenuhnya pada wasit. "Kenapa sampean ndak ngomong ke wasit tadi, Mas?" ujar panitia. Lha mosok ketika pertandingan, Official masuk lapangan dan melayangkan protes. Ndak sopan to bosss.
- Pada pertandingan Taroyad City melawan GORDA FC, pemain Taroyad City yang diganjar kartu merah pada pertandingan sebelumnya dengan santai dan khidmat bermain sampai habis satu babak pertandingan. Wasit meridhoi hal ini, padahal tertulis dalam peraturan kompetisi bahwa pemain yang mendapatkan kartu merah divonis tidak bisa bermain dalam satu pertandingan berikutnya. Ini briefingnya gimana?
*kami memiliki bukti fisik berupa video rekaman pertandingan, agar klaim ini tidak sekadar protes dengan bangunan kebencian
Melalui masukan dan saran yang dituangkan dalam ulasan di atas, besar harapan kami untuk sama-sama belajar membangun lingkungan sepak bola yang sportif, jujur, dan profesional di lingkungan Gontor secara khusus dan Nasional secara umum. Silaturahim dapat dengan nyaman terjalin bilamana kompetisi dikelola dengan baik, sehingga silaturahim bukan hanya menjadi "alibi" perlindungan atas kekurangan yang ada. Saran kami bila memang ingin mengadakan event silaturahim, maka undanglah tim tertentu yang sekiranya "mudah" dikalahkan oleh tuan rumah, jadilah event reunian dalam bentuk pertandingan persahabatan. Tidak perlu ada embel-embel kompetisi, uang pendaftaran (ya mungkin perlu untuk iuran lapangan), hadiah ini itu dan lain sebagainya. Mari sama-sama terbuka untuk belajar, agar sepak bola Gontor dapat semakin maju berkembang.
Sekian.
Catatan: Tulisan ini disusun setelah Turnamen Sepak Bola PLAT AG 2021


0 komentar