Bukan Golongan "Sini nak, ikut bapak jalan-jalan"
Setelah lulus MI, saatnya beranjak ke masa SMP. Saya memilih untuk lanjut sekolah di pesantren. Masuk pesantren bagi saya waktu itu merupakan sebuah
keputusan besar, keputusan yang muncul dari diri saya sendiri, tanpa paksaan
dari pihak manapun. Demi daftar pesantren, saya harus rela ga ikut perpisahan MI waktu itu, karena hari pelaksanaannya
yang udah lumayan mepet sama hari terakhir pendaftaran. Perjalanan berangkat ke
pesantren murni tanpa rekayasa (biasanya banyak anak masuk pondok karena
ditipu-tipu ama bapaknya dengan kalimat “sini nak, ikut bapak jalan-jalan”), saya dengan yakin milih jalan ini, jalan
dimana saya bakal jadi seorang “santri”.
Salah satu motivasi saya buat masuk pesantren adalah Mas saya sendiri, bukan Mas kamu, apalagi marimas.
Kok ini satu kamar pada tinggi-tinggi ya.
Goblok.
Saya nelpon terus setiap hari, sampe-sampe genap seminggu saya kehabisan uang, dan akhirnya ngutang. Sungguh sangat biadab, seorang dengan status masih "calon" pelajar menghutang di unit usaha milik pesantren yang diorganisir oleh ustadz. Benar-benar cerminan gaya hidup minimalis yang terlalu minimalis.
“Rasanya belum sih, stadz.”
Permisi mas M. Nur mohon ijin ya. Saya mau nge-DM, tapi ga tau IG sampean apa, nama M. Nur banyak soalnya.
Jadi, M. Nur adalah seorang calon pelajar aneh yang konon katanya memiliki kekuatan ghoib. Dia berkeliling hampir setiap malam, dan menyileti anggota tubuh calon pelajar yang lain pas malem. Saya sendiri ga tau apa alasan dia ngelakuin itu, dan bagaimana motifnya. Entah bunga-bunga atau putih polos dengan gambar spiderman di bagian belakang, saya ga tau.
Saking viralnya M.Nur, sampe-sampe demi keselamatan bersama dari sayatan silet yang misterius itu, ketua kamar saya rajin ngasih orasi malam sebelum kita tidur, dengan komando “Siapkan selalu senjata di tangan kalian semua”. Ada yang bawa hanger, gayung, ember, raket bulutangkis, botol Big Cola 5 liter, galon aqua. Entahlah, ini semacam usaha berlindung yang terlihat bodoh. Saya? Saya cukup tawakkal, berlindung dengan do'a pada Yang Maha Kuasa.
Anjay alim.
Dan akhirnya setelah berbagai ujian, saya lulus dan resmi jadi "santri"
.
.
.
*berikut sedikit potret ketika saya santri (perfotoan kelas 2 KMI, setara 2 smp)
![]() |
| di foto ini anda bisa dengan mudah menemukan saya |



4 komentar
Bang Kok Mukanya Komuk
BalasHapuslah emang ada muka saya ya
Hapuskoplak koplak trnyata ada juga teror aneh santri putra
BalasHapusTeror yang sangat menenangkan bagaikan adu pinalti.
Hapus