Catatan Harian - 1 Ramadhan
Tarawih Muhammadiyah
Berjalan pulang sekitar 500 meter dari masjid menuju kos, memori terlintas di kepala saya. Dulu ketika di pondok, setiap malam setelah tarawih, saya selalu menulis buku catatan harian santri. Libur kami dua tahun sekali, salah satunya adalah selama bulan Ramadhan. Selama libur, kami tetap mendapatkan tugas menulis buku harian, yang nantinya diperiksa ketika kembali ke pondok. Jika tidak lengkap, maka harus siap-siap dengan konsekuensinya.
Melalui tulisan ini, saya ingin mengulang memori 'buku harian santri' dalam bentuk cerita. Dulu, formatnya hanya 'waktu' dan 'kegiatan'. Wajar dan sangat cukup, mengingat siapa juga yang senang menulis cerita dalam paragraf panjang tentang keseharian selama masa liburan. Sekarang, semoga lebih banyak hal yang bisa diceritakan, dan bisa mendatangkan manfaat untuk siapapun. Aamiin
Sahur pertama
Pukul 1 malam saya baru meletakkan handphone di bawah kasur, dan mencoba tidur. Sebelumnya? Sempat ada perdebatan kecil tentang 'memberi waktu', juga saya yang menonton kembali konten CJM (YouTuber) setelah sekian lama tidak mengikuti. Tepat di jam 3, panggilan masuk dari Nisa dan Ibuk melalui WhatsApp. Saya kemudian beranjak, menghangatkan nasi dan lele goreng warteg yang dibeli semalam setelah tarawih.
Setelah sahur, saya sempat bingung karena kehabisan air minum, sedang lele goreng ini masih kering menyangkut di kerongkongan. Dengan waktu tersisa 15 menit menjelang imsak, saya menuju Alfamart, dan seketika meneguk air mineral di kursi besi. Kembali ke kos, saya sempat merasa sedih karena musholla dekat kos ternyata tidak buka, tidak ada yang berjamaah di sana. Realita sedih masyarakat, yang menjadi obrolan saya dengan Pak Ahmad (pengurus musholla) di akhir hari ini.
Tidur selepas Shubuh, Nisa kembali menelepon dan saya terbangun. Layar menunjukkan waktu 9.22, saya spontan bangun dan mandi. Hari ini kedapatan shift pagi, kesempatan langka yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tiba di kantor, ternyata dari tiga karyawan shift pagi ini, tidak satupun membawa kunci kantor! Luar biasa. Tanpa air conditioner, kantor panas layaknya sauna. Singkatnya, kita gosend kunci kantor dari Magetan ora mempan ke dukun Jombang sampai Madiun.
Bekerja
Pekerjaan hari ini dimulai dengan membalas seluruh pesan WhatsApp yang masuk. Setelahnya, mengurus administrasi grup kelas lanjutan, dan menginformasikan teachers tentang agenda observasi kelas hari ini. Lebih tepatnya, meminta bantuan mereka untuk mendokumentasikan kegiatan kelas, karena saya berencana pulang tepat jam 5, sebelum jam kelas tersebut dimulai. Dilanjutkan pertemuan dengan manager pada pukul setengah 3 sore. Pertemuan yang cukup panas bagai sauna, padahal kunci kantor sudah ada dan ac sudah menyala.
Salah satu agenda pertemuan kemarin adalah evaluasi agenda Senin lalu, di mana beberapa catatan terasa ditujukan pada saya. Selama evaluasi, saya mendengarkan dan merasa mungkin ini jawaban dari do'a 'Semoga saya memiliki manager yang komunikatif, mampu mendorong potensi saya untuk belajar.' Namun juga terbesit, apakah saya masih mampu belajar dengan beban kerja demikian? Karena rasanya, semua evaluasi yang disampaikan adalah pembelajaran, namun di waktu bersamaan semua ada batas sesuai proporsinya.
Setelah pertemuan, saya tidak banyak bicara dan kembali bekerja. Waktu menunjukkan pukul setengah 4 sore, tersisa 1,5 jam lagi sebelum jam kerja hari ini selesai. Saya lanjut menginformasikan seluruh grup kelas tentang penyesuaian jadwal selama bulan Ramadhan, berkunjung ke kelas untuk melakukan observasi, lalu bergegas pulang setelahnya. Alhamdulillah, adzan Maghrib berkumandang ketika saya sudah di kos.
Menghidupkan musholla
Buka puasa pertama di Ramadhan tahun ini. Setelah tiga tahun sebelumnya lebih banyak dihabiskan dengan berbuka di kantor Gresik, ini pertama kalinya saya berbuka di kos, di kota Madiun. Saya lalu ke masjid untuk sholat Isya' dilanjutkan tarawih dan witir, dilanjutkan membaca niat puasa bersama. Saya sempat kembali ke kantor untuk mengambil titipan nasi goreng yang dipesan online, juga sedikit berbincang dengan kolega kantor tentang kalimat 'kenapa, kamu ga suka?' yang ditujukan pada saya.
Kembali ke musholla, saya berniat mengikuti tadarus setelah tarawih, yang ternyata sudah selesai di jam 9 malam. Walhasil saya belum ikut mengaji, hanya duduk-duduk berbincang dengan Pak Ahmad. Beliau cerita bagaimana awal musholla kecil ini didirikan. Sebetulnya bangunan ini merupakan bagian dari rumah penduduk, yang kemudian difungsikan sebagai musholla. Juga membahas pengelolaan musholla, bagaimana menghidupkan musholla, tetap telaten meskipun jamaah hanya sedikit, semua kembali pada niat untuk memakmurkan masjid. Beliau juga bercerita tentang pengalaman beliau merantau dahulu, belajar dan mengajar mengaji di Depok, sampai saat ini terbentuk majelis pengajian di sana, sekalipun beliau saat ini sudah di Madiun.
Selain itu, ada cerita tentang bagaimana orang-orang dewasa belajar mengaji, yang menurut beliau jauh lebih menyenangkan dibandingkan anak-anak sekarang. Sekilas menjadi pesan dan pelajaran untuk saya, kelak jika diberi usia untuk membangun keluarga, semoga dapat menjadi keluarga yang dekat dengan Al-Qur'an, dikaruniai anak yang sejak kecil sudah belajar mengaji, sebagai bentuk dakwah dan tanggung jawab meneruskan agama Islam tanpa batasan waktu. Waktu menunjukkan pukul 21.42, kami bersalaman ditutup obrolan kecil tentang 'ngopi', lalu beranjak pulang.
Berduka
Tengah malam, berita duka datang dari salah satu tetangga rumah, teman dekat adik saya. Tasya, meninggal dunia setelah sempat kritis dan dirawat di RS Pusdik Porong. Belum banyak informasi tentang penyebabnya, yang saya ketahui dari Ibu saya, kabarnya Tasya mengeluhkan tidak enak badan sejak Selasa dan sesak nafas mulai Rabu pagi. Jika kalian membaca sampai paragraf ini, mohon doanya agar almarhumah diberi lapang dalam kubur, diampuni segala dosa, diterima semua amalan, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Begitulah cerita hari pertama Ramadhan, semoga kita selalu diberkahi pada Ramadhan tahun ini. aamiin


0 komentar